Ahmad Supartono

Sepi Ing Pamrih Rame Ing Gawe

Setiap harinya, Indonesia menghasilkan lebih dari 64 juta ton sampah, dan sekitar 17% di antaranya merupakan sampah plastik. Meski terlihat kecil, sampah plastik memiliki sifat yang paling mencemari karena tidak mudah terurai. Plastik yang kita buang hari ini bisa tetap ada hingga ratusan tahun mendatang. Pertanyaannya adalah apakah kita akan terus membiarkan bumi ini menjadi lautan plastik?

Dalam beberapa tahun terakhir, muncul harapan baru dalam bentuk teknologi pirolisis—sebuah metode yang mampu mengubah sampah plastik menjadi energi, khususnya bahan bakar cair. Namun, sekuat apa pun teknologi, tanpa didukung oleh kesadaran kolektif masyarakat dan komitmen pemerintah, hasilnya akan stagnan.

Pirolisis merupakan proses pemanasan sampah plastik tanpa oksigen yang menghasilkan minyak pirolisis (bahan bakar cair), gas, dan residu padat (char). Teknologi ini menjanjikan karena :

  • Dapat mengolah plastik jenis campuran dan multilayer.
  • Tidak menghasilkan emisi berbahaya jika dilakukan dengan sistem tertutup.
  • Menghasilkan energi alternatif yang dapat dimanfaatkan kembali, khususnya untuk industri kecil dan transportasi.

Negara-negara seperti Jepang dan Belanda sudah mengembangkan teknologi ini dalam skala industri. Di Indonesia, sejumlah startup dan pelaku UMKM lingkungan telah mulai menerapkan pirolisis secara sederhana. Namun skalanya masih terbatas dan belum didukung kebijakan yang progresif.

Meski teknologi pirolisis menjanjikan, tantangan utama justru berada pada tataran sosial dan kelembagaan :

  • Belum adanya regulasi teknis yang komprehensif terkait standar emisi dan keamanan pirolisis di tingkat daerah maupun nasional.
  • Persepsi negatif masyarakat, yang menganggap pembakaran plastik berbahaya tanpa memahami proses pirolisis yang berbeda dari pembakaran terbuka.
  • Kurangnya dukungan insentif atau kemitraan antara pelaku teknologi lokal dan pemerintah.

Tanpa edukasi publik dan dukungan regulasi, pirolisis berisiko dianggap hanya sebagai solusi elitis yang tidak menyentuh akar masalah sampah di masyarakat.

Mengatasi persoalan sampah plastik dengan pirolisis tidak bisa dilakukan oleh satu pihak. Dibutuhkan pendekatan multiactor dan multisector :

  • Pemerintah daerah perlu menyusun regulasi insentif bagi pelaku usaha pirolisis yang ramah lingkungan dan melibatkan pemulung atau bank sampah.
  • Akademisi dapat membantu dalam transfer pengetahuan dan pengembangan teknologi yang aman dan efisien.
  • Masyarakat, melalui bank sampah dan komunitas lingkungan, bisa menjadi pemasok bahan baku sekaligus edukator perilaku minim sampah.
  • Pelaku industri perlu dilibatkan dalam skema tanggung jawab produsen (Extended Producer Responsibility) agar turut membiayai infrastruktur pengolahan plastik.

Pirolisis harus menjadi bagian dari sistem pengelolaan sampah terpadu, bukan solusi tunggal. Kita seringkali mengandalkan teknologi sebagai penyelamat, namun lupa bahwa masalah lingkungan adalah masalah perilaku dan kesadaran. Teknologi pirolisis memang menawarkan harapan, tetapi jika masyarakat tetap konsumtif, tak memilah sampah, dan membuang plastik sembarangan, maka teknologi secanggih apa pun hanya akan menjadi monumen mahal tanpa dampak.

Sudah saatnya kita melihat sampah bukan sebagai sisa, tetapi sebagai sumber daya. Kita tak hanya butuh teknologi yang canggih, tapi juga komitmen kolektif, regulasi yang kuat, dan literasi ekologi publik yang tinggi.

Mengatasi krisis plastik bukan hanya tugas pemerintah atau pegiat lingkungan, tapi tanggung jawab kita semua. Mari mulai dari :

  • Memilah sampah plastik di rumah dan mengirimnya ke bank sampah atau komunitas pirolisis.
  • Mengurangi konsumsi plastik sekali paka.
  • Mendukung dan menyebarkan informasi tentang teknologi pengolahan ramah lingkungan

Dengan begitu, kita tidak hanya mengandalkan pirolisis sebagai teknologi, tapi juga menjadikannya bagian dari transformasi ekologi yang lebih besar: dari budaya buang menjadi budaya olah.

Referensi:
1. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), “Data Timbulan Sampah Nasional 2023”
2. UN Environment Programme, “Turning Plastic Waste into Fuel – Global Innovations”,

*) Mahasiswa Program Studi Ilmu Lingkungan, Program Magister Universitas Jenderal Soedirman

Posted in

Tinggalkan komentar