Ahmad Supartono

Sepi Ing Pamrih Rame Ing Gawe

  • Perjalanan ini karena sudah janji dengan klien di Kecamatan Air Napal (Bengkulu Utara) untuk melakukan Survey mengenai ruang laut kegiatan Budidaya Tambak Udang. Mengendarai Kijang Innova Bensin Buatan Tahun 2012. Perjalanan dimulai dari Kota Metro pada malam hari, sekitar pukul 21.00 WIB. Malam itu suasana jalanan masih hidup, lampu-lampu toko dan rumah di Metro hingga Pringsewu memberi cahaya di kiri-kanan jalan. Namun begitu memasuki wilayah Tanggamus, jalan mulai sepi. Hanya suara deru mesin mobil dan gemuruh truk besar yang sesekali lewat.

    Pesisir Barat: Hutan, Kelok, dan Subuh yang Sunyi

    Menjelang dini hari, mobil melintasi Pesisir Barat, Lampung. Jalan beraspal halus namun berkelok tajam, diapit hutan tropis dan kebun pisang yang pekat dalam kegelapan. Saat fajar menyingsing di Kecamatan Lemong, suasana berubah. Udara dingin, jalan lengang, dan pepohonan tinggi membuat perjalanan terasa sejuk. Alam di sini masih alami, seolah memberi salam pagi kepada para musafir.

    Sarapan di Maje: Hangatnya Lontong Sayur dan Soto Ayam

    Setelah semalaman menyetir, perut akhirnya menuntut perhatian. Tim berhenti di sebuah warung sederhana di Kecamatan Maje, Kabupaten Kaur. Menu khasnya: Soto Ayam dan lontong sayur dan secangkir kopi yang sedikit pahit benar-benar membangkitkan energi.

    Dari meja makan terlihat deretan truk besar parkir di pinggir jalan. Para sopir truk asyik berbincang soal kondisi jalan dan panjangnya antrean BBM. Saat itulah terasa betul bahwa jalur lintas barat bukan sekadar jalan raya, melainkan urat nadi ekonomi Sumatera.

    Masjid Bersih di Sembayat: Singgah Ibadah yang Menenangkan

    Sekitar tengah hari, perjalanan singgah di Masjid Nurussubah, Kelurahan Sembayat, Seluma Timur. Masjid kecil bercat biru dan oranye ini tampak bersih terawat. Karpet rapi, toilet dan tempat wudhu terjaga. Dengan rasa syukur, tim menunaikan sholat Zuhur yang dijamak dengan Ashar, memanfaatkan keringanan musafir. Setelah perjalanan panjang, suasana masjid yang tenang terasa menyejukkan jiwa.

    Hiruk Pikuk Pasar Manna

    Memasuki Pasar Manna, Bengkulu Selatan, jalanan berubah riuh. Motor, mobil, pejalan kaki, dan pedagang tumpah ruah jadi satu. Jalan sempit harus berbagi dengan kios, pembeli yang menenteng belanjaan, dan bahkan tenda hajatan. Kendaraan bergerak lambat, tetapi suasana pasar justru menghadirkan potret kehidupan nyata masyarakat pesisir.

    Pesta Perkawinan di Jalan Raya (Semidang Gumay)

    Di wilayah Kaur, perjalanan bertemu pemandangan unik, pesta perkawinan di jalan raya. Tenda warna-warni berdiri di kanan dan kiri, musik tradisional terdengar, sementara tamu berjajar menyambut. Mobil harus melintas pelan di tengah suasana meriah itu. Tradisi ini menegaskan betapa jalan bukan hanya jalur transportasi, melainkan juga ruang sosial budaya masyarakat Bengkulu.

    Antri BBM di SPBU

    Di sepanjang perjalanan, SPBU selalu penuh antrean. Mobil harus sabar menunggu giliran untuk mengisi Pertalite, setelah sebelumnya sempat mengisi Pertalite Rp300 ribu dan Pertamax Rp200 ribu. Antrian panjang ini adalah cerita klasik jalur lintas barat Sumatera, bagian dari dinamika perjalanan yang tak bisa dipisahkan.

    Talo Kecil dan Seluma: Desa Pesisir yang Teduh

    Menjelang siang, perjalanan melewati Kecamatan Talo Kecil dan Seluma Timur. Jalan berkelok, rumah-rumah sederhana berdiri di pinggir jalan, dan bendera merah putih masih berkibar gagah. Anak-anak desa bermain di halaman, sementara ibu-ibu tampak sibuk di teras rumah. Kehidupan desa ini memberi jeda yang teduh setelah hiruk pikuk pasar.

    Air Napal: Tiba di Pesisir Samudera Hindia

    Sore hari, setelah 14 jam lebih perjalanan, akhirnya tim tiba di Air Napal, Bengkulu Utara. Ombak besar Samudera Hindia menyambut, deburan air memukul karang, dan langit sore berwarna biru keperakan. Di sini, survey teknis dilakukan: memeriksa saluran gorong-gorong berdiameter 1,2 meter dan panjang 25 meter yang sering tertutup pasir. Catat GPS untuk titik koordinat pemanfaatan ruang laut, tidak terlihat tanaman mangrove, padang lamun maupun terumbu karang karena lokasi sangat kencang ombaknya. Diskusi lapangan digelar di tepi pantai, sambil memandang laut lepas yang penuh potensi sekaligus tantangan.

  • Apakah Anda membutuhkan izin resmi sumur bor air tanah untuk keperluan usaha atau instansi?
    Kami hadir untuk membantu Anda mengurus perizinan sumur bor (SIPA – Surat Izin Pengusahaan Air Tanah) dengan cepat, tepat, dan sesuai ketentuan hukum yang berlaku (Permen ESDM No. 14 Tahun 2024).

    🔧 Layanan Kami

    Kami melayani jasa pengurusan izin sumur bor lengkap dengan dukungan survei teknis menggunakan peralatan modern, antara lain:

    • Geolistrik 1D untuk mengetahui lapisan akuifer
    • Peralatan Pumping Test untuk uji debit sumur
    • GPS & Water Level Meter untuk akurasi lokasi dan kedalaman muka air tanah
    • Roteks (peralatan untuk penentuan titik pengeboran), dan
    • peralatan pendukung lainnya

    👥 Konsumen Kami

    Kami telah dipercaya oleh berbagai klien dari beragam sektor, di antaranya:

    • Rumah sakit, klinik, dan puskesmas
    • Industri AMDK (Air Minum Dalam Kemasan)
    • Berbagai jenis industri (manufaktur, pengolahan pangan, dll.)
    • Hotel, restoran, dan café
    • Tambak udang & usaha perikanan
    • Perusahaan perkebunan

    ✅ Kenapa Memilih Kami?

    • Berpengalaman melayani izin sumur bor di berbagai daerah
    • Didukung tenaga ahli hidrogeologi dan lingkungan
    • Proses cepat & transparan
    • Hasil sesuai standar regulasi Kementerian ESDM

    📞 Hubungi Kami

    Jangan biarkan usaha Anda terhambat karena masalah perizinan.
    Konsultasi GRATIS sekarang juga!

    👉 WhatsApp: 0852-6672-0906

  • Sebagai seorang konsultan lingkungan dan penyusun proposal teknis ruang laut yang telah berpengalaman dalam penyusunan dokumen teknis untuk kegiatan pemanfaatan ruang laut. Pada kesempatan kali ini, saya ingin membagikan pengalaman saya saat menyusun Proposal Teknis PKKPRL (Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut) untuk salah satu kegiatan yang berlokasi di daerah pesisir yakni Kecamatan Padang Cermin, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung

    📍 Tujuan Kegiatan

    Kegiatan ini merupakan bagian dari proses perizinan resmi melalui sistem OSS RBA, di mana setiap kegiatan di ruang laut wajib memperoleh PKKPRL dari Kementerian Kelautan dan Perikanan. Saya bertanggung jawab didalam penyusunan proposal teknis sebagai dasar pengajuan, yang memuat:

    • Lokasi dan koordinat kegiatan pemanfaatan ruang laut
    • Kondisi ekologi kawasan (mangrove, perairan, pesisir)
    • Pemanfaatan ruang laut yang direncanakan
    • Analisis kesesuaian ruang berdasarkan RZWP3K

    ⚖️ Dasar Hukum Kegiatan:

    • PP No. 21 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang
    • Permen KP No. 28 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan PKKPRL
    • RZWP3K Provinsi Lampung

    🧭 Hasil dan Tindak Lanjut

    Setelah pengumpulan data lapangan, seluruh informasi dianalisis dan dituangkan dalam dokumen teknis PKKPRL. Dokumen ini selanjutnya diajukan secara elektronik untuk memperoleh persetujuan. Tujuannya agar setiap pemanfaatan ruang laut tetap memperhatikan prinsip berkelanjutan, legal, dan sesuai rencana tata ruang laut.

    📞 Hubungi Saya

    Jika Anda, instansi, atau perusahaan Anda sedang merencanakan pemanfaatan ruang laut—baik itu untuk kegiatan pelabuhan, jetty, budidaya laut, wisata bahari, atau lainnya—dan membutuhkan pendampingan teknis:

    📌 Ahmad Supartono
    📱 0852-6672-0906
    📍 Konsultan Teknis Ruang Laut & Lingkungan
    📧 Silakan hubungi saya melalui kontak blog ini untuk konsultasi langsung.

    Ekosistem Mangrove Sekitar Lokasi Kegiatan
    Dokumentasi Pada Area Kantor

  • Oleh : Ahmad Supartono

    Sumur resapan air hujan merupakan struktur buatan berupa lubang di dalam tanah yang berfungsi untuk menampung dan meresapkan air hujan ke dalam lapisan tanah, guna meningkatkan cadangan air tanah dan mengurangi limpasan permukaan. Metode ini tergolong sebagai teknik konservasi air yang efektif dalam konteks urbanisasi dan penurunan daya resap lahan akibat pembangunan Indramaya & Purnama (2013). Sumur resapan tidak hanya bermanfaat sebagai solusi ekologis tetapi juga ekonomis, karena konstruksinya dapat dilakukan secara sederhana oleh masyarakat dengan bahan-bahan lokal. Desain dan perencanaan sumur resapan biasanya mempertimbangkan kondisi hidrogeologis, intensitas curah hujan, dan permeabilitas tanah agar efektivitas peresapan optimal. Fungsi utama dari sumur ini adalah menambah pasokan air tanah dan mengurangi risiko banjir di kawasan permukiman padat serta perkotaan yang tidak memiliki sistem drainase yang baik

    Kondisi lingkungan global saat ini menunjukkan tren krisis air bersih yang semakin meningkat, terutama di wilayah perkotaan dan pesisir. Kebutuhan akan teknologi konservasi air menjadi sangat mendesak seiring dengan perubahan iklim yang menyebabkan pola curah hujan yang tidak menentu. Sumur resapan menjadi solusi yang relevan karena mampu menyimpan air hujan sebagai cadangan air tanah Yulistyorini (2011). Di Indonesia, laju urbanisasi dan penyegelan lahan turut memperparah penurunan daya resap air. Oleh karena itu, keberadaan sumur resapan tidak hanya mengatasi permasalahan limpasan air hujan, tetapi juga menopang ketersediaan air bersih di musim kemarau. Pemerintah maupun masyarakat memiliki peran penting dalam memperluas implementasi teknologi ini sebagai bagian dari strategi ketahanan air. Kegiatan ini juga mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin 6 tentang air bersih dan sanitasi.

    Intrusi air laut adalah fenomena masuknya air laut ke dalam lapisan air tanah akibat berkurangnya tekanan air tawar, sering terjadi di kawasan pesisir yang mengalami eksploitasi air tanah berlebihan. Salah satu cara menanggulangi intrusi ini adalah dengan meningkatkan volume air tanah melalui infiltrasi air hujan, di mana sumur resapan memainkan peran vital Tamelan & Kapa (2023). Wilayah seperti Jakarta Utara dan Medan Belawan menjadi contoh nyata di mana air tanah tercemar oleh kadar salinitas tinggi. Selain mengancam ketersediaan air minum, intrusi air laut juga berdampak pada pertanian dan kesehatan masyarakat. Sumur resapan yang tersebar secara merata akan membentuk sistem recharge alami yang mampu menjaga keseimbangan antara ekstraksi dan suplai air tanah. Teknologi ini sangat disarankan untuk diterapkan secara luas di seluruh wilayah pesisir Indonesia guna mencegah kerusakan sumber daya air secara permanen.

    Musim kemarau yang berkepanjangan menyebabkan penurunan drastis pada permukaan air tanah, sehingga banyak sumur warga yang kering dan tidak lagi dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Fenomena ini terjadi hampir setiap tahun di berbagai daerah seperti Jawa Tengah, Nusa Tenggara, dan sebagian Kalimantan Mulyono & Winasis (2021). Hal ini menunjukkan lemahnya cadangan air tanah akibat kurangnya sistem penyerapan air yang memadai. Sumur resapan menjadi strategi jangka panjang yang memungkinkan air hujan tersimpan dan masuk ke dalam akuifer selama musim penghujan. Dalam jangka panjang, keberadaan sumur resapan dapat memperbaiki fluktuasi muka air tanah dan menghindarkan masyarakat dari ketergantungan pada air kemasan atau bantuan distribusi air tangki. Investasi awal yang relatif murah membuat sumur resapan cocok diterapkan di tingkat rumah tangga hingga institusi pemerintah.

    Desain sumur resapan telah berkembang dengan mempertimbangkan kondisi geoteknik lokal. Variasi seperti sumur resapan silinder vertikal, parit berorak, dan biopori telah diterapkan di berbagai daerah Bahunta & Waspodo (2019). Pemilihan bentuk tergantung pada luas lahan, intensitas curah hujan, serta kecepatan infiltrasi tanah. Inovasi lokal juga mencakup penggunaan material alami seperti ijuk, batu kali, dan pasir untuk menyaring air yang masuk ke dalam tanah. Di kawasan permukiman padat, sumur resapan mini atau sumur dalam ukuran modular menjadi alternatif menarik. Konstruksi dapat disesuaikan agar tidak mengganggu aktivitas warga, dan pemeliharaannya cukup dilakukan secara berkala. Selain itu, perkembangan teknologi sensor juga mulai diterapkan untuk memantau efektivitas sumur dalam meresapkan air, sehingga intervensi dini dapat dilakukan bila terjadi penyumbatan atau penurunan kapasitas resapan.

    Keberhasilan implementasi sumur resapan sangat bergantung pada partisipasi aktif masyarakat. Edukasi mengenai manfaat dan tata cara pembuatan sumur resapan harus terus dilakukan melalui forum RT/RW, sekolah, dan kampanye lingkungan Lestari et al. (2021). Banyak warga yang belum menyadari bahwa air hujan yang selama ini dibiarkan mengalir begitu saja dapat dimanfaatkan untuk menambah cadangan air bawah tanah. Program gotong royong pembangunan sumur resapan di halaman rumah menjadi salah satu bentuk pemberdayaan komunitas yang sangat efektif. Pemerintah daerah dapat mendorong dengan memberikan insentif seperti pemotongan PBB bagi warga yang membangun sumur resapan. Kolaborasi ini terbukti memperluas adopsi teknologi, sebagaimana terlihat di Kupang dan Sleman, di mana ratusan sumur telah dibangun melalui kemitraan antara warga dan akademisi.

    Menurut laporan Kementerian PUPR dan KLHK, hingga tahun 2023 tercatat lebih dari 250.000 unit sumur resapan telah dibangun di berbagai wilayah Indonesia, dengan konsentrasi tertinggi di Jawa dan Bali. Sebagian besar merupakan inisiatif pemerintah daerah melalui program adaptasi perubahan iklim dan konservasi air Tumpu et al. (2021). Di Jakarta, Dinas Sumber Daya Air mencatat sekitar 28.000 sumur telah terpasang pada fasilitas publik seperti sekolah, kantor kelurahan, dan taman kota. Program serupa dijalankan di Kota Surabaya, Yogyakarta, dan Bogor. Inisiatif swadaya warga juga meningkat dengan adanya bantuan teknis dari perguruan tinggi dan LSM. Statistik ini menunjukkan bahwa kesadaran dan kepedulian terhadap konservasi air semakin meningkat. Namun demikian, tantangan masih besar dalam hal pemantauan dan pemeliharaan keberlanjutan sumur resapan secara nasional.

    Selain mengisi ulang air tanah, sumur resapan terbukti efektif dalam mengurangi volume air limpasan yang menyebabkan banjir lokal di kawasan urban Indriatmoko & Rahardjo (2015). Pada musim hujan, air yang tidak terserap akan mengalir ke saluran drainase, menyebabkan genangan dan banjir. Dengan sumur resapan, sebagian besar air hujan dapat ditahan dan disalurkan ke dalam tanah. Studi di Kampung Babakan, Cibinong, menunjukkan penurunan signifikan pada debit limpasan setelah pembangunan beberapa sumur resapan Bahunta & Waspodo (2019). Di daerah padat seperti Jakarta Timur, sumur resapan menjadi solusi alternatif karena keterbatasan ruang untuk kolam retensi. Dengan penataan yang baik, sistem sumur resapan dapat menjadi bagian integral dari infrastruktur hijau kota yang mendukung manajemen air berkelanjutan.

    Penulis tinggal di Kota Metro, Provinsi Lampung. luas lahan yang saya tempati adalah 1.500 meter persegi. lahan tertutup bangunan adalah 200 meter persegi. mari kita hitung debit air larian hujan berdasarkan data curah hujan rata-rata di kota metro tahun 2024. Sumur resapan pada rumah yang saya tempati akan saya buat 3 (tiga) buah, air larian hujan akan mengalirke saluran drainase.

    1. Curah hujan rata-rata Kota Metro

    Menurut data iklim, rata-rata curah hujan tahunan di Kota Metro berkisar antara 2.000–3.000 mm (Kota Metro – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas) Ini berarti sepanjang tahun, total hujan berkisar 2–3 meter tinggi air.

    2. Estimasi limpasan air hujan

    • Luas total lahan: 1.500 m²
    • Lahan tertutup bangunan: 200 m² (seluruhnya dianggap impervious, sehingga seluruh hujan di atasnya menjadi limpasan)
    • Anggap curah hujan rata-rata: gunakan nilai tengah, misalnya 2.500 mm/tahun = 2,5 m/tahun.

    Debit limpasan dari atap/bangunan
    = 200 m² × 2,5 m = 500 m³ per tahun

    Air hujan dari area bangunan yang tidak diserap akan menjadi limpasan. Sebagian lainnya dari lahan terbuka juga dapat mengalir, tergantung infiltrasi.

    3. Perkolasi dan laju infiltrasi

    Data infiltrasi di lahan terbuka (bebas tegakan) menunjukkan laju sekitar 4,80 cm/jam atau total perkolasi jika ada hujan merata. Namun untuk pendekatan annual, kita lebih mudah menggunakan proporsi infiltrasi vs limpasan:

    Sebagai asumsi konservatif (umum digunakan):

    • Tanah terbuka (1.300 m²) menyerap sebagian besar hujan—anggap 80 % dari hujan meresap.
    • Sisanya (20 %) menjadi limpasan ke drainase alami.

    Sehingga:

    • Hujan total di lahan terbuka = 1.300 m² × 2,5 m = 3.250 m³
    • Infiltrasi: 80 % × 3.250 = 2.600 m³
    • Limpasan dari area terbuka: 650 m³

    Total limpasan (bangunan + terbuka) = 500 + 650 = 1.150 m³ per tahun, sedangkan total infiltrasi alami ≈ 2.600 m³.

    4. Jumlah dan volume sumur resapan

    Saya berniat membuat 3 sumur resapan. Idealnya, sumur resapan menangani limpasan dari area impermeabel (200 m²) atau sebagian area lahan. Jika ingin mengelola limpasan 500 m³/tahun dari atap:

    • Volume total yang perlu ditangani500 m³/tahun
    • Dengan 3 sumur, masing-masing harus mampu meresapkan ≈ 167 m³/tahun.

    Jika menggunakan sumur resapan buatan standar (misalnya diameter 1 m, kedalaman 3 m, volume 2,35 m³), kapasitas peresapan per sumur tergantung infiltrasi tanah—biasanya efektifannya rendah. Namun secara umum, volume fisik sumur bisa disesuaikan, berarti saya dapat membuat sumur berukuran lebih besar, atau menambah kedalaman dan diameter agar tiap sumur dapat menampung dan meresapkan sekitar 160–170 m³ per tahun.

    Ringkasan perhitungan diatas dapat kita sajikan pada tabel sebagai berikut :

    ParameterNilai
    Curah hujan tahunan (rata-rata)≈ 2.500 mm/tahun
    Limpasan dari bangunan 200 m²≈ 500 m³/tahun
    Infiltrasi alami lahan terbuka≈ 2.600 m³/tahun
    Limpasan lahan terbuka (20 %)≈ 650 m³/tahun
    Total limpasan≈ 1.150 m³/tahun
    Volume per sumur (3 unit)≈ 167 m³ per sumur per tahun

    Sumur resapan adalah solusi sederhana namun efektif untuk berbagai permasalahan lingkungan seperti banjir, kekeringan, dan degradasi air tanah. Pengembangan lebih lanjut harus dilakukan secara terintegrasi dengan pendekatan partisipatif, berbasis data ilmiah, dan didukung oleh regulasi yang kuat. Pemerintah daerah perlu mengeluarkan Perda yang mewajibkan pembangunan sumur resapan pada bangunan baru. Pendidikan lingkungan juga perlu digalakkan agar generasi muda memahami pentingnya air sebagai sumber kehidupan Lestari et al. (2019). Diperlukan juga riset lanjutan mengenai efektivitas berbagai desain sumur resapan di kondisi tanah dan iklim yang berbeda-beda di Indonesia. Dengan upaya kolaboratif antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat, konservasi air tanah melalui sumur resapan dapat menjadi tonggak penting menuju pembangunan berkelanjutan yang resilien terhadap krisis air.

    Sumber Pustaka :

    1. https://core.ac.uk/reader/295176020
    2. https://core.ac.uk/download/pdf/296297025.pdf
    3. https://ejurnal.undana.ac.id/TekMas/article/view/14218
    4. https://jurnal.syntaxliterate.co.id/index.php/syntax-literate/article/view/2091
    5. https://journal.ipb.ac.id/index.php/jsil/article/view/23133/16667
    6. https://www.academia.edu/download/104950792/911.pdf
    7. https://books.google.com/books
    8. hl=en&lr=&id=211aEAAAQBAJ&oi=fnd&pg=PA1&dq=sumur+resapan+air+hujan+indonesia
    9. https://www.neliti.com/publications/245632/kajian-pendahuluan-sistem-pemanfaatan-air-hujan
    10. https://journal.ipb.ac.id/index.php/jsil/article/view/23133/16667
    11. https://jrnl.itpln.ac.id/terang/article/download/402/588
    12. https://media.neliti.com/media/publications/233983-infiltrasi-pada-berbagai-tegakan-hutan-d-8878c584.pdf
  • Metro, 5 Agustus 2025 Masehi / 11 Shafar 1447 Hijriyah

    Oleh : K E L I K

    Sore ini hujan rintik
    Suasana terasa dingin
    Kan kuberi kau puisi
    Agar hangatkan hatimu

    Pelem adalah nama
    Yang membuat bahagia bagi siapa yang lapar
    Kembang adalah bunga
    Yang membuat bahagia orang yang melihatnya

    Duhai, Sang Pencipta
    Si durjana telah membantai jutaan Palestina.
    Tapi kami diam dan memendam pilu saja

    Hanya Doa kami, adalah tanda lemahnya iman kami
    Mereka betul menebas pohon pelem Palestina agar tak terlihat kembangnya
    Namun mereka tak akan bisa mencegah musim bunga jika telah tiba waktunya.

    Duhai, Sang Pencipta. Merdekalah Palestina!

  • Oleh : Ahmad Supartono

    Analisis ini dilakukan untuk menghitung kebutuhan air bersih dan produksi air limbah dari industri tepung tapioka modern yang berlokasi di Provinsi Lampung dengan data sebagai berikut :

    1. Kapasitas produksi 200 ton tapioka per  hari.
    2. Jumlah karyawan 50 orang
    3. Karyawan tinggal di mess sebanyak 16 KK.

    Berikut ini adalah standar kebutuhan air bersih untuk pekerja industri.

    Tabel 1.  Kebutuhan Air Bersih Karyawan Pabrik

    Kebutuhan Air Karyawan PabrikSumber Referensi
    30–60 liter/orang/hariSNI 03-7065-2005 (Perencanaan Air Bersih)
    45–60 liter/orang/hariPeraturan Menteri PU No. 18/PRT/M/2007
    45 liter/orang/hariDirektorat Cipta Karya – Bina Marga
    50 liter/orang/hari (karyawan)Manual WHO dan UNESCO
    40–60 liter/orang/hariStudi ITS dan ITB dalam perencanaan industri
    Sumber : Diolah dari beberapa sumber, 2025

    Untuk menghitung kebutuhan air bersih dari soal tersebut, maka dihitung berdasarkan data diatas, dan didapatkan hasil seperti pada tabel berikut ini.

    Tabel 2. Perhitungan Kebutuhan Air Bersih

    NoKomponenJumlah Orang / ProduksiAsumsi Kebutuhan AirKebutuhan Air (m³/hari)
    1Penghuni Mess (16 KK × 4)64 orang100 liter/orang/hari6,4
    2Karyawan Non-Mess34 orang50 liter/orang/hari1,7
    3Kebutuhan Produksi200 ton/hari5 m³/ton produk1.000,0
    Total Kebutuhan Air Bersih1.008,1
    Asumsi kebutuhan air bersih maksimal (110% dari rata-rata)  = 1.008,1 × 110%1.108,91 m³/hari

    Selanjutnya untuk perhitungan air limbah dapat disajikan pada tabel berikut ini.

    Tabel 3. Perhitungan Produksi Air Limbah

    KomponenVolume Air Bersih (m³/hari)Persentase Menjadi LimbahEstimasi Air Limbah (m³/hari)
    Air Domestik Mess Non-Mess)  6,4 1,7  80%*) 80%*)  5,12 1,34
    Air Produksi1.00090% **)900,00
    Total  906,46
    Total produksi air limbah berdasarkan kebutuhan maksimal 1.108,91 × 90%998,02 m³/hari  

    *)   SNI 03-7065-2005 – Sistem Penyediaan Air Bersih.

    **) Damanik et al. (2020), Jurnal IPTEK ITS – Studi efisiensi air industri tapioka

    Alasan penggunaan angka 80% dari kebutuhan air bersih menjadi air limbah dalam perhitungan neraca air adalah berdasarkan prinsip konservasi massa dan efisiensi sistem penggunaan air, yang secara empiris telah digunakan secara luas dalam perencanaan teknis dan kajian lingkungan.

    Dalam sistem sanitasi dan industri, sebagian besar air bersih yang digunakan akan kembali menjadi air limbah, kecuali sebagian kecil yang:

    • Terserap ke tubuh manusia (metabolisme)
    • Mengalami penguapan (evaporasi)
    • Terserap ke produk (contoh: residu pada produk makanan atau bahan jadi)
    • Tertinggal di saluran pembersih, permukaan, atau peralatan

    Neraca air pada kegiatan industri pati ubi kayu disajikan sebagai berikut :

    Referensi:

    – SNI 03-7065-2005 tentang Tata Cara Perencanaan Sistem Penyediaan Air Bersih
    – Tedmondgroups.co.id: Kebutuhan air bersih per orang per hari
    – Jurnal IPTEK ITS: Analisis penggunaan air di industri tapioka
    – World Bank dan WHO: Proporsi grey water dan black water dalam air limbah domestic

  • Oleh : Ahmad Supartono

    Artikel ini membahas perbandingan kadar Chemical Oxygen Demand (COD) dari berbagai jenis kegiatan sebelum limbahnya diolah melalui instalasi pengolahan air limbah (IPAL). COD adalah parameter penting dalam pengukuran kualitas air yang menunjukkan jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi bahan organik dalam air secara kimiawi. Nilai COD yang tinggi mencerminkan beban pencemar organik yang besar, yang dapat menyebabkan penurunan kualitas perairan jika tidak diolah. Berikut tabel perbandingan COD 5 (lima) kegiatan sebelum diolah pada IPAL sebagai berikut.

    Tabel Perbandingan COD 5 (lima) Kegiatan Sebelum Diolah Pada IPAL

    dari tabel diatas, dibuat grafik perbandingan Chemical Oxigen Demend untuk 5 (lima) kegiatan berikut ini.

    Grafik Perbandingan COD 5 (lima) Kegiatan Industri

    Limbah domestik rumah tangga diambil untuk pembanding dengan kegiatan industri yang lain, kadar COD awal untuk limbah domestik tercatat sekitar 900 ppm, berdasarkan studi di permukiman padat seperti Jakarta, Surabaya, dan Makassar. Meskipun nilainya lebih rendah dibandingkan limbah industri, volume dan sebaran limbah domestik yang luas tetap menimbulkan tantangan ekologis jika tidak ditangani dengan sistem IPAL yang memadai dan berkelanjutan.

    Industri tapioka menghasilkan air limbah dengan kadar COD sekitar 20.000 ppm, sebagaimana dilaporkan ICA dan KLHK (2014). Limbah ini berasal dari pencucian singkong, proses fermentasi, dan pencetakan pati. Kandungan organik yang tinggi berupa pati, protein, dan sisa substrat fermentasi menjadikan limbah ini sangat potensial mencemari lingkungan jika tidak ditangani dengan baik. Pengolahan limbah secara anaerobik sering digunakan karena kandungan organik yang mudah terurai. Efisiensi IPAL menjadi krusial dalam menurunkan COD ke bawah ambang baku mutu sesuai Permen LHK No. 5 Tahun 2014.

    Limbah dari industri pengolahan inti sawit (PKO) mengandung COD sebesar 25.000 ppm. Idris et al. (2012) menyebutkan bahwa tingginya nilai COD disebabkan oleh kandungan senyawa organik seperti minyak, protein, dan serat nabati. Karakteristik ini menyebabkan air limbah PKO memerlukan pengolahan khusus, terutama melalui sistem anaerobik multistage

    Industri Crude Palm Oil (CPO) menghasilkan air limbah dengan kadar COD tertinggi, yaitu mencapai 85.000 ppm. Nasution et al. (2020) melaporkan bahwa limbah ini berasal dari pencucian buah, kondensat, dan buangan dari proses klarifikasi. Tingginya kandungan minyak dan bahan organik lain membuatnya sangat mencemari jika tidak diolah

    Limbah cair industri karet mengandung COD sekitar 12.000 ppm. Sumber utama berasal dari pencucian lateks, proses koagulasi, dan pengolahan bahan kimia tambahan. Penelitian dari IPB, ITS, dan Unila menunjukkan bahwa limbah ini memiliki karakteristik organik yang tinggi, dengan keasaman cukup tinggi dan beban BOD yang besar

    Perbandingan kadar COD awal dari berbagai jenis kegiatan menunjukkan bahwa limbah industri memiliki potensi pencemaran yang jauh lebih tinggi dibanding limbah domestik rumah tangga. Industri CPO menempati posisi tertinggi dengan kadar COD mencapai 85.000 ppm, diikuti oleh industri PKO, tapioka, dan karet. Sementara itu, limbah domestik berada pada kisaran 900 ppm. Tingginya nilai COD menuntut penerapan sistem IPAL yang tepat guna dan berkelanjutan. Oleh karena itu, strategi pengolahan air limbah harus disesuaikan dengan karakteristik sumbernya guna menurunkan beban pencemar dan melindungi kualitas lingkungan hidup.

    Selanjutnya sebelum dibuang ke media lingkungan, maka kadar COD wajib diolah terlebih dahulu sehingga memenuhi baku mutu lingkungan yang telah ditetapkan. berikut adalah tabel kadar COD sebelum diolah dan baku mutu COD sebelum dibuang ke media lingkungan.

    Tabel tersebut menyajikan perbandingan kadar awal Chemical Oxygen Demand (COD) dari berbagai sumber pencemar—baik domestik maupun industri—dengan baku mutu maksimum yang ditetapkan oleh regulasi pemerintah dalam hal ini Permen LHK No P.68 tahun 2016 untuk baku mutu limbah cair domestik dan Permen LH No 5 tahun 2014 untuk baku mutu limbah cair beberapa kegiatan industri.

    Kadar COD awal umumnya jauh melampaui batas baku mutu yang diizinkan, menunjukkan potensi dampak signifikan terhadap kualitas perairan jika tidak diolah secara optimal. Hal ini menekankan urgensi pengelolaan limbah berbasis data dan kepatuhan terhadap standar lingkungan sebagai fondasi keberlanjutan industri dan perlindungan sumber daya air.

    Wallahu A’lam Bishawab

  • Dalam sebuah ceramah, Gus Muwafiq menyebutkan tentang syair cinta Sufi Rabiah Al Adawiyah yang menurut Beliau, “Syairnya menakutkan”. adapun syair tersebut berbunyi sebagai berikut :

    “Ya Allah, apapun karunia-Mu di dunia ini, aku tidak butuh. Berikan saja kepada musuh-musuh-MU

    dan apapun karunia-Mu di akherat nanti, aku tidak butuh. Berikan saja kepada kekasih-kekasih-Mu”.

    “Kalo ibadahku ini karena aku ingin Surga, Tutup Surga itu dariku”.

    “Tapi kalau ibadahku karena takut neraka, buka pintu neraka bakar aku di dalamnya.

    tetapi kalau ibadahku karena aku rindu pada-Mu Ya Allah, awas jangan Kau palingkan wajah-Mu dariku”.

  • PT Agung Jaya Petroleum yang berkedudukan di Desa Sukajaya Lempasing Kecamatan Teluk Pandan Kabupaten Pesawaran bermaksud untuk menyusun Dokumen Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Kegiatan Industri Pengolahan Minyak Pelumas Bekas Menjadi bahan Bakar dengan luas lahan 2.000 meter persegi. Kegiatan yang dilaksanakan adalah pengurusan perizinan, sosialisasi kegiatan, penerimaan tenaga kerja, pematangan lahan, mobilisasi kendaraan material dan peralatan, konstruksi bangunan gedung dan pengoperasian kegiatan industri pengolahan minyak pelumas bekas menjadi bahan bakar dan fasilitas penunjangnya.

    Rencana kegiatan pembangunan kegiatan industri pengolahan minyak pelumas bekas menjadi bahan bakar ini diprakirakan akan menimbulkan dampak lingkungan baik positif dan negatif. Potensi dampak negatif pada tahap konstruksi diantaranya berupa penurunan kualitas udara, peningkatan kebisingan, penurunan kualitas air permukaan, dan gangguan lalu lintas. Potensi dampak negatif pada tahap operasi diantaranya adalah penurunan kualitas udara, peningkatan kebisingan, penurunan kualitas air permukaan dan gangguan lalu lintas. Sedangkan dampak positif dari kegiatan adalah peningkatan kesempatan kerja dan terbukanya peluang berusaha khususnya bagi masyarakat sekitar serta peningkatan ketersediaan bahan bakar dalam negeri.

    Pengumuman kepada masyarakat dilakukan untuk memenuhi ketentuan yang tercantum dalam PerMenLH RI No. 17 tahun 2012 tentang Pedoman Keterlibatan Masyarakat Dalam Proses Analisis Dampak Lingkungan Hidup dan Izin Lingkungan dan Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 Tentang Penyelengaraan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup maka terhitung hari ini kami mengumumkan rencana kegiatan tersebut dan mengharapkan saran, pendapat, dan tanggapan dari masyarakat  sebagai bahan kajian dan telaahan dalam proses penyusunan Studi Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan dimaksud

    Saran, masukan dan tanggapan dapat dikirimkan kepada PT Agung Jaya Petroleum dengan alamat Desa Sukajaya Lempasing Kecamatan Teluk pandan Kabupaten Pesawaran. HP 0821-4152-2221

    Batas waktu penyampaian saran, pendapat dan tanggapan adalah 10 (sepuluh) hari kerja terhitung sejak tanggal pengumuman ini.

    Teluk Pandan, 25 Juli 2025