Oleh : Ahmad Supartono
Artikel ini membahas perbandingan kadar Chemical Oxygen Demand (COD) dari berbagai jenis kegiatan sebelum limbahnya diolah melalui instalasi pengolahan air limbah (IPAL). COD adalah parameter penting dalam pengukuran kualitas air yang menunjukkan jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi bahan organik dalam air secara kimiawi. Nilai COD yang tinggi mencerminkan beban pencemar organik yang besar, yang dapat menyebabkan penurunan kualitas perairan jika tidak diolah. Berikut tabel perbandingan COD 5 (lima) kegiatan sebelum diolah pada IPAL sebagai berikut.
Tabel Perbandingan COD 5 (lima) Kegiatan Sebelum Diolah Pada IPAL

dari tabel diatas, dibuat grafik perbandingan Chemical Oxigen Demend untuk 5 (lima) kegiatan berikut ini.
Grafik Perbandingan COD 5 (lima) Kegiatan Industri

Limbah domestik rumah tangga diambil untuk pembanding dengan kegiatan industri yang lain, kadar COD awal untuk limbah domestik tercatat sekitar 900 ppm, berdasarkan studi di permukiman padat seperti Jakarta, Surabaya, dan Makassar. Meskipun nilainya lebih rendah dibandingkan limbah industri, volume dan sebaran limbah domestik yang luas tetap menimbulkan tantangan ekologis jika tidak ditangani dengan sistem IPAL yang memadai dan berkelanjutan.
Industri tapioka menghasilkan air limbah dengan kadar COD sekitar 20.000 ppm, sebagaimana dilaporkan ICA dan KLHK (2014). Limbah ini berasal dari pencucian singkong, proses fermentasi, dan pencetakan pati. Kandungan organik yang tinggi berupa pati, protein, dan sisa substrat fermentasi menjadikan limbah ini sangat potensial mencemari lingkungan jika tidak ditangani dengan baik. Pengolahan limbah secara anaerobik sering digunakan karena kandungan organik yang mudah terurai. Efisiensi IPAL menjadi krusial dalam menurunkan COD ke bawah ambang baku mutu sesuai Permen LHK No. 5 Tahun 2014.
Limbah dari industri pengolahan inti sawit (PKO) mengandung COD sebesar 25.000 ppm. Idris et al. (2012) menyebutkan bahwa tingginya nilai COD disebabkan oleh kandungan senyawa organik seperti minyak, protein, dan serat nabati. Karakteristik ini menyebabkan air limbah PKO memerlukan pengolahan khusus, terutama melalui sistem anaerobik multistage
Industri Crude Palm Oil (CPO) menghasilkan air limbah dengan kadar COD tertinggi, yaitu mencapai 85.000 ppm. Nasution et al. (2020) melaporkan bahwa limbah ini berasal dari pencucian buah, kondensat, dan buangan dari proses klarifikasi. Tingginya kandungan minyak dan bahan organik lain membuatnya sangat mencemari jika tidak diolah
Limbah cair industri karet mengandung COD sekitar 12.000 ppm. Sumber utama berasal dari pencucian lateks, proses koagulasi, dan pengolahan bahan kimia tambahan. Penelitian dari IPB, ITS, dan Unila menunjukkan bahwa limbah ini memiliki karakteristik organik yang tinggi, dengan keasaman cukup tinggi dan beban BOD yang besar
Perbandingan kadar COD awal dari berbagai jenis kegiatan menunjukkan bahwa limbah industri memiliki potensi pencemaran yang jauh lebih tinggi dibanding limbah domestik rumah tangga. Industri CPO menempati posisi tertinggi dengan kadar COD mencapai 85.000 ppm, diikuti oleh industri PKO, tapioka, dan karet. Sementara itu, limbah domestik berada pada kisaran 900 ppm. Tingginya nilai COD menuntut penerapan sistem IPAL yang tepat guna dan berkelanjutan. Oleh karena itu, strategi pengolahan air limbah harus disesuaikan dengan karakteristik sumbernya guna menurunkan beban pencemar dan melindungi kualitas lingkungan hidup.
Selanjutnya sebelum dibuang ke media lingkungan, maka kadar COD wajib diolah terlebih dahulu sehingga memenuhi baku mutu lingkungan yang telah ditetapkan. berikut adalah tabel kadar COD sebelum diolah dan baku mutu COD sebelum dibuang ke media lingkungan.

Tabel tersebut menyajikan perbandingan kadar awal Chemical Oxygen Demand (COD) dari berbagai sumber pencemar—baik domestik maupun industri—dengan baku mutu maksimum yang ditetapkan oleh regulasi pemerintah dalam hal ini Permen LHK No P.68 tahun 2016 untuk baku mutu limbah cair domestik dan Permen LH No 5 tahun 2014 untuk baku mutu limbah cair beberapa kegiatan industri.
Kadar COD awal umumnya jauh melampaui batas baku mutu yang diizinkan, menunjukkan potensi dampak signifikan terhadap kualitas perairan jika tidak diolah secara optimal. Hal ini menekankan urgensi pengelolaan limbah berbasis data dan kepatuhan terhadap standar lingkungan sebagai fondasi keberlanjutan industri dan perlindungan sumber daya air.
Tinggalkan komentar