Ahmad Supartono

Sepi Ing Pamrih Rame Ing Gawe

Perjalanan ini karena sudah janji dengan klien di Kecamatan Air Napal (Bengkulu Utara) untuk melakukan Survey mengenai ruang laut kegiatan Budidaya Tambak Udang. Mengendarai Kijang Innova Bensin Buatan Tahun 2012. Perjalanan dimulai dari Kota Metro pada malam hari, sekitar pukul 21.00 WIB. Malam itu suasana jalanan masih hidup, lampu-lampu toko dan rumah di Metro hingga Pringsewu memberi cahaya di kiri-kanan jalan. Namun begitu memasuki wilayah Tanggamus, jalan mulai sepi. Hanya suara deru mesin mobil dan gemuruh truk besar yang sesekali lewat.

Pesisir Barat: Hutan, Kelok, dan Subuh yang Sunyi

Menjelang dini hari, mobil melintasi Pesisir Barat, Lampung. Jalan beraspal halus namun berkelok tajam, diapit hutan tropis dan kebun pisang yang pekat dalam kegelapan. Saat fajar menyingsing di Kecamatan Lemong, suasana berubah. Udara dingin, jalan lengang, dan pepohonan tinggi membuat perjalanan terasa sejuk. Alam di sini masih alami, seolah memberi salam pagi kepada para musafir.

Sarapan di Maje: Hangatnya Lontong Sayur dan Soto Ayam

Setelah semalaman menyetir, perut akhirnya menuntut perhatian. Tim berhenti di sebuah warung sederhana di Kecamatan Maje, Kabupaten Kaur. Menu khasnya: Soto Ayam dan lontong sayur dan secangkir kopi yang sedikit pahit benar-benar membangkitkan energi.

Dari meja makan terlihat deretan truk besar parkir di pinggir jalan. Para sopir truk asyik berbincang soal kondisi jalan dan panjangnya antrean BBM. Saat itulah terasa betul bahwa jalur lintas barat bukan sekadar jalan raya, melainkan urat nadi ekonomi Sumatera.

Masjid Bersih di Sembayat: Singgah Ibadah yang Menenangkan

Sekitar tengah hari, perjalanan singgah di Masjid Nurussubah, Kelurahan Sembayat, Seluma Timur. Masjid kecil bercat biru dan oranye ini tampak bersih terawat. Karpet rapi, toilet dan tempat wudhu terjaga. Dengan rasa syukur, tim menunaikan sholat Zuhur yang dijamak dengan Ashar, memanfaatkan keringanan musafir. Setelah perjalanan panjang, suasana masjid yang tenang terasa menyejukkan jiwa.

Hiruk Pikuk Pasar Manna

Memasuki Pasar Manna, Bengkulu Selatan, jalanan berubah riuh. Motor, mobil, pejalan kaki, dan pedagang tumpah ruah jadi satu. Jalan sempit harus berbagi dengan kios, pembeli yang menenteng belanjaan, dan bahkan tenda hajatan. Kendaraan bergerak lambat, tetapi suasana pasar justru menghadirkan potret kehidupan nyata masyarakat pesisir.

Pesta Perkawinan di Jalan Raya (Semidang Gumay)

Di wilayah Kaur, perjalanan bertemu pemandangan unik, pesta perkawinan di jalan raya. Tenda warna-warni berdiri di kanan dan kiri, musik tradisional terdengar, sementara tamu berjajar menyambut. Mobil harus melintas pelan di tengah suasana meriah itu. Tradisi ini menegaskan betapa jalan bukan hanya jalur transportasi, melainkan juga ruang sosial budaya masyarakat Bengkulu.

Antri BBM di SPBU

Di sepanjang perjalanan, SPBU selalu penuh antrean. Mobil harus sabar menunggu giliran untuk mengisi Pertalite, setelah sebelumnya sempat mengisi Pertalite Rp300 ribu dan Pertamax Rp200 ribu. Antrian panjang ini adalah cerita klasik jalur lintas barat Sumatera, bagian dari dinamika perjalanan yang tak bisa dipisahkan.

Talo Kecil dan Seluma: Desa Pesisir yang Teduh

Menjelang siang, perjalanan melewati Kecamatan Talo Kecil dan Seluma Timur. Jalan berkelok, rumah-rumah sederhana berdiri di pinggir jalan, dan bendera merah putih masih berkibar gagah. Anak-anak desa bermain di halaman, sementara ibu-ibu tampak sibuk di teras rumah. Kehidupan desa ini memberi jeda yang teduh setelah hiruk pikuk pasar.

Air Napal: Tiba di Pesisir Samudera Hindia

Sore hari, setelah 14 jam lebih perjalanan, akhirnya tim tiba di Air Napal, Bengkulu Utara. Ombak besar Samudera Hindia menyambut, deburan air memukul karang, dan langit sore berwarna biru keperakan. Di sini, survey teknis dilakukan: memeriksa saluran gorong-gorong berdiameter 1,2 meter dan panjang 25 meter yang sering tertutup pasir. Catat GPS untuk titik koordinat pemanfaatan ruang laut, tidak terlihat tanaman mangrove, padang lamun maupun terumbu karang karena lokasi sangat kencang ombaknya. Diskusi lapangan digelar di tepi pantai, sambil memandang laut lepas yang penuh potensi sekaligus tantangan.

Posted in

Tinggalkan komentar