Akibat Lupa Pada Guru SD
Karya : Kelik
Namaku Galih, hanya sebuah nama panggilan, tetapi di baliknya tersimpan banyak cerita hidup. Aku anak yatim sejak usia sembilan tahun, ketika Bapak meninggal karena sakit. Penyakitnya banyak seperti reumatik, jantung, dan batu ginjal. Bapak adalah sosok yang pandai bergaul, memiliki banyak teman, dan aktif berorganisasi di Persyarikatan Muhammadiyah di Kota kami tinggal.
Tahun 1989, aku lulus dari Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah. Setelah itu, aku masuk sekolah menengah pertama negeri berkat kakak ipar tertuaku, seorang guru di sekolah tersebut. Menurut cerita kakak perempuanku, keputusan itu diambil agar Ibu tidak terlalu berat memikul beban hidup. Maka aku pun tinggal bersama keluarga kakak di rumah mereka.
Siang terik di tahun 1990. Aku sudah duduk di kelas dua SMP. Sepulang sekolah, aku dan lima teman menuju kota untuk mengikuti les Bahasa Inggris. Kami menumpang angkot berwarna kuning. Angkotnya lumayan baru sehingga terasa empuk dan wangi. Hanya karena siang hari yang panas, membuat keringat menetes di pelipis.
Di tengah perjalanan, angkot berhenti. Seorang bapak-bapak naik. Deg. Jantungku berdegup kencang. Aku mengenali wajah itu—Pak Kamiyun, guru matematika di SD-ku. Ingatan segera menyeretku kembali ke kelas empat SD, papan tulis hijau tua, derit kapur, dan diriku yang berdiri di depan kelas, tak mampu mengerjakan soal matematika yang diberikan Pak Kamiyun. Saat itu aku menangis, dimarahai beliua yang tidak bisa mengerjakan soal dan juga malu di hadapan teman-teman.
Pak Kamiyun menatapku sambil tersenyum.
“Masih ingat Bapak?” tanyanya.
Entah mengapa, mulutku justru menjawab, “Tidak, Pak.”
Kalimat itu terasa seperti batu yang kulempar ke sumur—tenang di permukaan, namun menghantam dalam. Sekilas, cahaya di matanya meredup. Beliau berkata pelan, “Le, le… isih enom kok lali,”—nak, masih muda kok sudah lupa. Senyumnya tetap ada, meski menyimpan sedikit getir.
Beliau lalu mengajak mengobrol ringan. Teman-temanku diam, mungkin heran mendengar jawabanku. Sepuluh menit kemudian, Pak Kamiyun berkata “Stop” kepada supir angkot jurusan ke kota.
“Mari, Nak,” ucapnya saat turun.
“Mari, Pak…” jawabku, sambil memohon maaf dalam hati.
Angkot kembali melaju. Udara panas bercampur debu, namun dadaku terasa lebih sesak daripada udara siang itu. Mengapa aku berbohong menutupi malu!
Les Bahasa Inggris sore itu dimulai seperti biasa: salam pembuka, percakapan sederhana, latihan tanya jawab. Ironisnya, materi hari itu adalah frasa I remember dan I forgot. Setiap kali menulis I forgot, hatiku seperti diingatkan bahwa aku baru saja memilih untuk “lupa” pada seseorang yang begitu berjasa.
Hari-hari berikutnya kembali normal. Mata pelajaran datang silih berganti—Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Biologi, Fisika. Aku lulus SMP dengan nilai baik, masuk peringkat sepuluh besar dari dua ratus siswa. Namun aku tahu, ada sifat dalam diriku yang tidak baik, minder, rendah diri, dan sulit bergaul. Aku sering lupa nama orang, meski wajahnya masih jelas dalam ingatan.
Kadang aku bertanya-tanya, apakah semua ini ada hubungannya dengan kebohongan kecil yang pernah kuucapkan di angkot siang itu?
Pak Kamiyun, maafkan aku. Semoga Bapak dan keluarga selalu dalam lindungan Allah SWT, diberi rahmat serta keberkahan-Nya. Dari pertemuan singkat itu, aku belajar satu hal yang akan kupegang seumur hidup: melupakan itu mudah, tetapi keberanian untuk mengingat—dan mengakui—adalah tanda hormat yang tidak boleh hilang.
